Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pattimura sukses menyelenggarakan kegiatan Kuliah Tamu bertaraf internasional pada Selasa, 5 Mei 2026, bertempat di Student Center FKIP Universitas Pattimura. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 12.30 WIT ini mengangkat tema “Oral History dan Pendekatan Antropologis dalam Studi Sejarah” dengan menghadirkan narasumber istimewa, Prof. Fridus Steijlen dari Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda—seorang akademisi dan peneliti yang memiliki reputasi kuat dalam kajian sejarah lisan, migrasi, identitas budaya, serta hubungan historis Indonesia-Belanda.

Kegiatan ini merupakan wujud nyata implementasi kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sekaligus mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Universitas Pattimura, khususnya IKU 7 mengenai kelas yang kolaboratif dan partisipatif dengan melibatkan praktisi atau pakar dari luar kampus, serta IKU 6 terkait kerja sama program studi dengan mitra kelas dunia. Melalui kehadiran Prof. Fridus Steijlen, Program Studi Pendidikan Sejarah memperkuat jejaring akademik internasionalnya dan membuka peluang kolaborasi riset, publikasi ilmiah, serta pertukaran akademik di masa mendatang.
Acara diikuti oleh sekitar 150 peserta yang terdiri atas mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, dosen, mahasiswa dari program studi lain di lingkungan FKIP, serta undangan akademik lainnya. Rangkaian acara dimulai dengan registrasi peserta, dilanjutkan dengan pembukaan resmi, sambutan dari Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah, penyampaian materi inti oleh narasumber, sesi diskusi dan tanya jawab yang interaktif, hingga penutupan yang diakhiri dengan sesi foto bersama.

Dalam paparannya, Prof. Fridus Steijlen menjelaskan bahwa sejarah lisan (oral history) merupakan metode penting dalam pengumpulan sumber sejarah melalui wawancara langsung dengan pelaku atau saksi peristiwa sejarah, terutama untuk mendokumentasikan pengalaman masyarakat yang tidak tercatat dalam sumber tertulis. Beliau juga menekankan urgensi pendekatan antropologis dalam studi sejarah, yang memungkinkan sejarawan memahami makna budaya, nilai sosial, tradisi, dan identitas masyarakat sebagai bagian tak terpisahkan dari peristiwa sejarah. Sejumlah contoh penelitian sejarah lisan di Indonesia turut dibahas, termasuk pengungkapan perspektif masyarakat lokal mengenai pengalaman kolonialisme, migrasi, konflik sosial, dan perubahan budaya.

Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan, tercermin dari beragam pertanyaan yang diajukan seputar teknik wawancara dalam penelitian sejarah lisan, validasi data oral history, integrasi pendekatan antropologi dalam penelitian sejarah lokal, hingga peluang penelitian sejarah masyarakat kepulauan Maluku menggunakan metode sejarah lisan.
Kegiatan ini memberikan sejumlah capaian penting, di antaranya meningkatnya pemahaman mahasiswa mengenai metode sejarah lisan, bertambahnya wawasan tentang pendekatan interdisipliner dalam studi sejarah, tumbuhnya minat mahasiswa untuk melakukan penelitian berbasis masyarakat lokal, serta terjalinnya komunikasi akademik antara Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Pattimura dengan akademisi internasional.
Ke depan, Program Studi Pendidikan Sejarah berkomitmen untuk terus menyelenggarakan kegiatan kuliah tamu internasional secara berkelanjutan, termasuk merencanakan tindak lanjut berupa workshop metodologi sejarah lisan, guna mendorong mahasiswa mengembangkan penelitian sejarah lokal berbasis oral history di wilayah Maluku sebagai bagian dari upaya pelestarian memori kolektif masyarakat kepulauan.
