Field Trip History ke Gunung Saniri dan Benteng Duurstede di Saparua

Saparua, Januari 2026

Kegiatan Field Trip History ke Gunung Saniri di Pulau Saparua merupakan salah satu bentuk pembelajaran luar kelas yang bertujuan untuk memperkaya pengetahuan mahasiswa tentang sejarah lokal Maluku. Gunung Saniri dikenal sebagai tempat yang memiliki nilai historis dan kultural penting bagi masyarakat Saparua, karena pada masa lalu lokasi ini digunakan sebagai tempat musyawarah para raja negeri serta lokasi pelantikan raja dalam sistem pemerintahan adat. Dalam kegiatan ini, mahasiswa memperoleh penjelasan mengenai peran Gunung Saniri sebagai pusat aktivitas sosial dan politik masyarakat tradisional. Selain itu, mahasiswa juga mempelajari keterkaitan antara sejarah lokal, struktur pemerintahan adat, serta nilai-nilai budaya yang masih dipertahankan oleh masyarakat hingga saat ini. Melalui observasi langsung di lokasi, mahasiswa dapat memahami bahwa Gunung Saniri bukan hanya sekadar situs alam, tetapi juga simbol persatuan dan kearifan lokal masyarakat Saparua.

Kunjungan selanjutnya dilakukan ke Benteng Duurstede yang juga berada di Pulau Saparua, Maluku. Benteng ini merupakan peninggalan kolonial yang dibangun oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada abad ke-17. Benteng Duurstede memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku, khususnya dalam peristiwa perlawanan yang dipimpin oleh Thomas Matulessy atau yang lebih dikenal sebagai Kapitan Pattimura pada tahun 1817. Melalui kegiatan field trip di Benteng Duurstede, mahasiswa mempelajari secara langsung tentang struktur bangunan benteng, fungsi pertahanan kolonial, serta peristiwa sejarah yang terjadi di tempat tersebut. Mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai bagaimana benteng ini menjadi saksi perjuangan rakyat Maluku dalam melawan penjajahan Belanda. Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual karena mahasiswa dapat mengamati langsung bukti fisik peninggalan sejarah, sehingga mampu menghubungkan teori yang dipelajari di kelas dengan realitas sejarah di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × five =